Home » Cahaya Ilahi » Waspada Misi Relawan Antipolitisasi Masjid
Selasa, 24 April 2018 - 18:11 WIB

Waspada Misi Relawan Antipolitisasi Masjid

Waspada Misi Relawan Antipolitisasi Masjid Seorang anak lelaki terlihat bersujud mengikuti jemaah lainnya di salah satu masjid. net

 

JAKARTA – Jelang Pilpres dan Pileg 2019, relawan Jokowi dalam acara CFD Jakarta getol menyerukan agar umat Islam tidak mempolitisasi masjid. Kontan seruan itu menuai reaksi keras Pakar sufisme dan Guru Besar Universitas Paramadina, Prof DR Abdul Hadi WM.

 

Menurut Abdul Hadi  seruan sekelompok orang yang menyebut diri mereka sebagai “antipolitisasi masjid” boleh jadi diartikan oleh sekelompok orang Islam sebagai seruan “larangan berpolitik bagi orang Islam.

 

“Di dalam masjid juga termasuk membicarakan masalah ekonomi dan politik. Pemerintah jajahan Belanda tempo dulu juga sudah melarang politisasi masjid. Dengan mengikuti arah Snouck Hurgronje, pemerintah Belanda yang hanya mengizinkan eksistensi masjid dan kaum Muslim itu hanya untuk soal ritual dan ibadah, atau ada dikotomi antara Islam ritual dan Islam ibadah,” kata Abdul Hadi kepada Republika.co.id, di Jakarta, Senin (23/4).

 

Namun, lanjut Abdul Hadi, dikotomi Snouck Hurgronje setelah kemerdekaan sempat ditinggalkan. Pada tahun 1960-an misalnya, ketika Presiden Sukarno memerlukan dukungan umat Islam dalam konfrontasi melawan Malaysia, dia menghilangkan dikotomi itu. Oleh Bung Karno dinyatakan ulama (dan juga Umat Islam di masjid) didorong mengeluarkan fatwa “wajib” berkonfrontasi dengan Malaysia.

 

 

“Jadi kepada mereka yang bergabung dengan gerakan antipolitisasi masjid hendaklah ingat, bahwa orang Islam Indonesia adalah penduduk terbanyak di negeri ini dan janggan suka melarang-larang mereka menjalani kehidupan mereka mengikuti ajaran agama mereka yang mereka anggap mulia. Sebab, semakin masjid ditakuti sebagai tempat yang baik membicarakan politik, maka makin banyak orang pergi ke masjid,” ujarnya.

 

 

Sebelumnya Ketua Umum KB PII Nasrullah Narada berkata senada dengan Abdul Hadi. Dia mengatakan adanya gerakan dan seruan antipolitisasi masjid itu kontraproduktif dan menimbulkan keresahan umat Islam. Sebab, itu malah hanya menyempitkan fungsi masjid yang jelas tidak hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga memang berfungsi sebagai tempat menyelesaikan berbagai persoalan umat dari soal ekonomi, sosial, budaya, bahkan politik.

 

 

“Ada gerakan antipolitisasi masjid malah membuat resah bahkan telah membuat marah sebagian umat Islam. Gerakan ini dilakukan oleh orang yang tak paham akan fungsi masjid dan ingin menyempitkan fungsi masjid itu sendiri. Ingat fungsi masjid adalah untuk menyelesaikan berbagai masalah umat Islam,’’ kata Nasrullah Narada, di Jakarta (23/4).

 

Bagi posisi Jokowi sendiri, lanjut Nasrullah, kini malah sampai kepada kenyataan bila gerakan ini malah sama sekali tidak menguntungkan. Gerakan ini hanya mempersempit ‘pasar pemilih’ atau pendukung Jokowi karena justru menimbulkan antipati kepada pihak yang selama ini belum mendukung dia.

 

“Adanya kelompok ini umat Islam modernis yang selama ini cenderung tidak mendukung Jokowi dalam pilpres atau malah melakukan oposisi, justru semakin solid sikapnya yakni tak mau ikut dalam kelompok Jokowi. Padahal kebutuhan Jokowi ini adalah merangkul pihak Islam modernis yang selama ini berada di luar dengan gencar melakukan oposisi. Saya lihat gerakan atau seruan ini malah sebagai blunder politik Jokowi,’’ tegasnya.

 

Bukan hanya itu, kata Nasrullah, fakta pun sudah mengatakan gerakan semacam antipolitisasi masjid ini sudah gagal total dalam pemilu pilkada DKI yang lalu. Gerakan ini terbukti tak laku dengan adanya kekalahan Ahok. ’’Saran saya kepada kelompok Jokowi jangan diterus-teruskan karena malah konyol jadinya.”

 

 

Sebelumnya di berbagai media massa online muncul berita adanya gerakan antipolitisasi masjid pada sebuah acara publik di kawasan Sarinah, Jakarta, Ahad (22/4). Mereka menyebut dirinya sebagai ‘Gerakan Nasional Jutaan Relawan Dukung Joko Widodo’. Mereka mengklaim program antipolitisasi masjid itu akan dilakukan melalui ceramah dan pengajian yang digelar relawan. Tidak hanya itu kubu Jokowi malah memanfaatkan Ketua MUI Ma’ruf Amin yang menyebut Jokowi akan bagi-bagi tanah untuk pesantren. 

 

sumber: republika

BERITA LAINNYA

Ramadhan Memberi Berkah Bagi Warga Belakangpadang

Mayoritas Awal Puasa 2018 Serentak

Nurdin : Jangan Lupakan Tujuan Hidup Kita di Dunia

Gubernur Kepri: Jauhi Kedengkian dan Adu Domba

Rekayasa Allah SWT Sungguh Sempurna

Waspada, Buku 57 Khutbah Jumat Berpaham Syiah

Ayo Gabung Bersama 212 Mart Batam

Salju Selimuti Tabuk, Tanda Kiamat Semakin Dekat

Indonesia Darurat LGBT dan Zina, Gempa Beruntun Hantam Jogja dan Jakarta

Catat! Inilah Jadwal Ustadz Abdul Somad di Batam dan Kepri