Home » Dunia » Terbukti Bantai Muslim Rohingya, Oxford Lucuti Penghargaan Suu Kyi
Tuesday, 28 November 2017 - 17:34 WIB

Terbukti Bantai Muslim Rohingya, Oxford Lucuti Penghargaan Suu Kyi

Terbukti Bantai Muslim Rohingya, Oxford Lucuti Penghargaan Suu Kyi Seorang Ibu, korban selamat genosida Rohingya terlihat menangis bersama kedua orang anaknya

OXFORD – Terbukti melakukan teror genosida, Dewan Kota Oxford secara resmi mencabut penghargaan Freedom of Oxford dari pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi.

Pencabutan ini diumumkan setelah mereka mengeluarkan suara bulat dalam pemungutan suara yang dilakukan pada Senin (27/11/2017).

Dilucutinya penghargaan Freedom of Oxford dari Suu Kyi merupakan tanggapan Oxford atas penindasan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar. Dewan Kota mengatakan mereka tidak ingin memberikan penghargaan bagi siapapun yang menutup mata terhadap kekerasan.

 

“Oxford memiliki tradisi panjang untuk menjadi kota yang beragam dan manusiawi, dan kini reputasi kita telah ternoda dengan adanya penghormatan terhadap orang-orang yang menutup mata terhadap kekerasan. Kami berharap hari ini kami telah menyuarakan suara kecil kami kepada orang lain untuk menyerukan hak asasi manusia dan keadilan bagi orang-orang Rohingya,” ujar Kanselir Oxford, Mary Clarkson, kepada BBC.

 

Pemungutan suara dilakukan dihari yang sama saat Paus Francis mengunjungi Myanmar untuk meninjau langsung krisis tersebut. Dalam kunjungan itu, pemimpin tertinggi militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, mengatakan kepada Paus bahwa tidak ada diskriminasi agama di Myanmar.

 

Lebih dari 600 ribu Muslim Rohingya telah terusir dari Negara Bagian Rakhine di barat Myanmar ke negara tetangga Bangladesh oleh serangkaian operasi militer. Operasi ini oleh PBB telah digambarkan sebagai contoh buku teks tentang pembersihan etnis.

 

Pada 2012, Suu Kyi mendapatkan gelar doktor kehormatan dari Oxford. Ia juga mengadakan pesta ulang tahun ke-67 di kampus St Hugh, tempat dia belajar politik, filsafat, dan ekonomi antara 1964 dan 1967.

 

Namun dalam beberapa bulan terakhir ini, Suu Kyi telah menarik banyak kritik terkait krisis kemanusiaan Rohingya. Pada September lalu, St Hugh memutuskan untuk mencopot lukisannya dari pintu masuk utama, beberapa hari sebelum dimulainya tahun ajaran baru dan kedatangan siswa baru.

 

Sejauh ini, Oxford telah memutuskan untuk tidak mempertimbangkan kembali pemberian gelar kehormatan untuk Suu Kyi. Universitas tersebut juga telah menyatakan keprihatinan mendalam atas nasib minoritas Rohingya di Myanmar.

 

Pada awal November, musisi Bob Geldof mengembalikan penghargaan Freedom of Dublin untuk memprotes krisis Rohingya. Penghargaan ini juga dipegang oleh Suu Kyi.
‌(wan/Republik) 

BERITA LAINNYA

Klaim Amerika Atas Yerusalem Picu Perang Dunia III

Negara-negara Arab Siap Gempur Iran

Katalunya Ancam Berpisah dari Spanyol

Israel-Amerika Diduga Kuat Otaki Penyerangan Istana Raja Saudi

Pernyataan Panglima Soal Isu Impor Senjata Ternyata Benar

Halimah Yacob Bakal Jadi Presiden Muslim Kedua di Singapura

Cina di Balik Genosida Etnis Rohingya?

Dukung LGBT, Starbucks Dinilai Rusak Moralitas Bangsa Indonesia

Rezim Jokowi Kriminalisasi Ulama, Presiden Turki Murka

Terbukti, Syiah Iran Ingin Basmi Umat Islam