Home » Nasional » Penolakan Ketua GNPF di Cirebon, Bukti Mereka Tak Rela Umat Islam Indonesia Bersatu
Senin, 16 Oktober 2017 - 21:48 WIB

Penolakan Ketua GNPF di Cirebon, Bukti Mereka Tak Rela Umat Islam Indonesia Bersatu

Penolakan Ketua GNPF di Cirebon, Bukti Mereka Tak Rela Umat Islam Indonesia Bersatu Aksi super damai 212 telah menyatukan umat Islam Indonesia dari segala golongan yang selama ini kerap berbeda pendapat

JAKARTA – Setahun pasca Aksi Bela Islam (411 dan 212) yang menghasilkan izzah dan persatuan umat Islam Indonesia, gerakan pecah belah dan adudomba makin gencar diserukan oleh musuh-musuh umat Islam.

 

Tidak hanya dilakukan kaum kafir (non muslim) dan munafik, namun gerakan penggembosan terhadap persatuan umat Islam Tanah Air juga getol dilakukan oleh pentolan penganut sekulerisme pluralisme liberalisme (Spilis), Syiah dan komunis (PKI).

 

Gelagat penghasutan tersebut diawali dengan opini yang terus-menerus dihembuskan oleh media mainstream anti Islam dengan mencomot lidah pentolan-pentolan Spilis. Dan entah karena kebetulan atau tidak, pentolan Spilis tersebut memang sedari awal pendukung si penista Al-Maidah 51.

 

Masih ingat dalam ingatan kita peristiwa kasus pengusiran terhadap Ustadz Tengku Zulkarnain, Ustadz Felix Siaw, Ustadz Basalah, dan teranyar adalah penolakan tabligh akbar Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia Bachtiar Nasir oleh PCNU Cirebon.

 

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Sulton Fatoni menanggapi penolakan Ustaz Bachtiar Nasir yang terjadi di Cirebon. Menurut dia, PBNU menyerahkan kepada PCNU Cirebon untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

 

Karena, menurut dia, para kiai yang berada di daerah lebih mengetahui dinamika sosial keagamaan yang berada di Cirebon.

 

“PBNU menyerahkan kepada PCNU Cirebon karena para kiai di daerah yang memahami dinamika sosial keagamaan di Cirebon,” ujar Sulton seperti dilansir Republika.co.id, Senin (16/10/2017).

 

Sebelumnya, pihak kepolisian Cirebon telah mengusulkan kepada panitia MTQ di Cirebon untuk mengganti Bachtiar sebagai pengisi tausyiyah dengan penceramah lain. Usulan polisi ini terkait surat keberatan atas hadirnya Bachtiar yang dilayang PCNU Cirebon yang ditandatangani oleh Ketua PCNU Cirebon Azis Hakim. Pengurus NU Cirebon menolak kedatangan Bachtiar dengan alasan dikhawatirkan tausyiyah yang disampaikan akan memecah belah masyarakat di Cirebon.

 

Sebagai informasi, acara MTQ tingkat Kota Cirebon rencananya akan dihadiri Wali Kota Cirebon Nasrudin Azis dan akan dibuka pada Rabu (18/10). Pada Kamis (19/10), rencananya acara MTQ dilanjutkan dengan tausiyah oleh Bachtiar Nasir yang juga Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).

 

Bachtiar Nasir saat gelombang aksi Bela Islam beberapa waktu lalu mengatakan, izzah Islam yang diturunkan oleh Allah kepada umat Islam yang telah dinikmati oleh muslim Indonesia saat ini kata Bachtiar dipahami secara gagal oleh kaum Munafik dan mayoritas oleh non muslim.

 

Aksi umat Islam di Indonesia belakangan tidak seperti dituduhkan mereka. Seolah-olah akan makar, teroris hingga seperti tuduhan Megawati Soerkarno Putri bahwa Islam sebagai ideologi tertutup bahkan umat Islam sebagai peramal masa depan.

 

Bachtiar berpesan, umat Islam di Indonesia sudah ingin bersatu sudah sangat kuat. Tapi kenyataannya ada kekuatan yang ingin merontokkan satu persatu para ulama dengan ghirah umat Islam yang sedang muncul ini.

 

“Ingat kepada mereka yang ingin melemahkan umat, kekuatan ini tidak bisa dibendung. Izzah Islam mereka mencintai Allah dan mencintai serta santun kepada sesama umat Islam, siap berjihad di jalan Allah, dan tegas kepada non-Muslim,” ujarnya. (wan/gnpf)

BERITA LAINNYA

SBY : Polri, BIN, TNI Netral Lah

Rezim Jokowi Anggap Nyawa Rakyat Hanya Untuk Bahan Pelajaran

Komnas HAM Kutuk Penistaan Rezim Jokowi Pada Wartawan

H-5 Lebaran 2018, Lonjakan Pemudik di Bandara Hang Nadim Meningkat

Waspadai Agenda Setting Istilah “Masjid Radikal”

Dana THR dan Gaji ke-13 PNS Ternyata Diambil dari APBD

Penggerudukan Radar Bogor Ancam Kebebasan Pers

Rilis 200 Ulama, Bukti Diskriminasi Rezim Jokowi Pada Umat Islam

Waspadai Proxy War dalam Agenda 200 Daftar Mubalig

Gempa Tektonik Guncang Gunung Salak Bogor