Home » Nasional » Pasca Ahok Tumbang Pilkada, Rezim Jokowi Intensifkan “Bunuh” Penghambat Pilpres 2019
Sunday, 16 July 2017 - 23:55 WIB

Pasca Ahok Tumbang Pilkada, Rezim Jokowi Intensifkan “Bunuh” Penghambat Pilpres 2019

Pasca Ahok Tumbang Pilkada, Rezim Jokowi Intensifkan “Bunuh” Penghambat Pilpres 2019

PASCA kekalahan Ahok yang dibackup penuh rezim Jokowi dengan gelontoran modal para taipan di Pilkada DKI Jakarta belum lama ini, segala cara terus diintensifkan Jokowi menekan dan mengintimidasi lawan-lawan politiknya yang diduga untuk melanggengkan kekuasaannya di Pilpres 2019 mendatang.

 

Diawali dengan kriminalisasi ulama dan aktivis Islam, lanjut kriminalisasi lawan politik, kasus penikaman ahli IT ITB yang menjadi saksi HRS, Perpu Ormas, dan teranyar pemblokiran Telegram.

 

Dikutip dari opini Deny JA, Pengamat Politik dan Pendiri LSI, persoalannya, benarkah ada kegentingan memaksa saat ini sehingga diperlukan sebuah Perpu untuk membubarkan ormas? Apa ukuran kegentingan memaksa itu?

 

Apa benar Pancasila terancam dan akan digantikan negara Islam, atau khalifah internasional? Mari kita uji dengan data, data dan data.

 

Mustahil pancasila bisa diganti tanpa lewat persetujuan DPR/MPR. Sementara empat partai terbesar di DPR/MPR adalah PDIP, Golkar, Gerindra, Demokrat. Total 4 partai ini saia sudah di atas 50 persen. Mustahil 4 partai ini bersetuju dengan manuver mengganti Pancasila.

 

Mustahil Pancasila bisa diganti tanpa persetujuan opini publik. Silahkan cek hasil survei lembaga yang kredibel. Publik indonesia yang setuju negara Islam di bawah 10 persen. Di atas 70 persen menginginkan Pancasila.

 

Mustahil Pancasila bisa diganti tanpa mengalahkan TNI dan kepolisian. Mungkinkah TNI dan kepolisian menggunakan senjata untuk mengganti Pancasila?

 

Cukup dengan common sense itu saja, dapat kita pahami apa benar ada kegentingan yang memaksa sehingga diperlukan Perpu untuk membubarkan ormas (kebebasan berserikat) tanpa lewat pengadilan.

 

Jokowi bisa jadi sukses menggoalkan Perpu ini. Dengan team yang kuat, Jokowi mungkin sukses mengalahkan penggugatnya di Mahkamah Konstitusi. Jokowi mungkin sukses pula menggoalkan perpu itu di sidang DPR.

 

Namun Jokowi akan susah melawan palu godam sejarah. Justru semakin sukses Jokowi menggoalkan Perpu itu semakin pula Jokowi akan dikenang sebagai “problem” dalam sejarah evolusi demokrasi modern dan hak asasi manusia di Indonesia.

 

Kecenderungan meluasnya prinsip hak asasi manusia dan demokrasi modern terlalu kuat untuk dilawan oleh siapapun. Kutipan opini Human Right Watch yang dipublikasi Washington Post seharusnya cukup menjadi warning bagi Jokowi. ia tidak sedang melawan HTI. Tapi Jokowi sedang melawan prinsip hak asasi manusia dan demokrasi modern.

 

Justru karena kita cinta Jokowi, ia harus disapa. Cinta sejati seorang pendukung adalah mendukungnya ketika benar, dan mengeritiknya ketika salah arah. (wan/rp)

BERITA LAINNYA

Penolakan Ketua GNPF di Cirebon, Bukti Mereka Tak Rela Umat Islam Indonesia Bersatu

Subhanallah, Gagahnya Anies-Sandi Pakai Baju Dinas Pemimpin DKI Jakarta

TNI: Senjata Brimob Mematikan dan Canggih

Siaga PKI Bangkit dan Kutuk Jokowi, Jutaan Umat Islam Gelar #Aksi299

TNI Gagalkan Rencana Penyelundupan 5000 Pucuk Senjata Api

Panglima TNI Beri Sinyal Kuatnya Kebangkitan PKI Pasca Reformasi

IWO Kepri dan Kota Batam Resmi Dikukuhkan

Ketum IWO Bakal Lantik Pengurus Kepri dan Batam

Jokowi Ngeper Terapkan FDS

Mantan Direktur Humas BP Batam Yang Gabung ISIS, Akhirnya Pulang dari Suriah