Home » Teknologi » Manusia Menuju Zaman Es Berikutnya
Tuesday, 28 March 2017 - 06:14 WIB

Manusia Menuju Zaman Es Berikutnya

Manusia Menuju Zaman Es Berikutnya Tampak permukaan bumi dari citra satelit menunjukkan gumpalan salju

 

 

NEW YORK – Peneliti paleoklimatologi Columbia University, New York, Michael Sandstrom menjelaskan, 25 persen umur bumi dilalui di zaman es besar. Zaman es besar ini bisa memiliki pula zaman es kecil (masa glasial) di dalamnya dan periode hangat (masa interglasial) di dalamnya.

 

Selama zaman es besar terakhir yakni glasiasi Quaternary pada sekitar 2,7-1 juta tahun lalu, masa glasial muncul tiap 41 ribu tahun sekali. Namun, dalam 800 ribu tahun terakhir, masa glasial terjadi 100 ribu tahun sekali. 100 tahun ini dihitung dari 90 ribu tahun pembentukan lempengan es raksasa di bumi dan 10 ribu tahun melelehnya lempengan es sebelum akhirnya siklus berulang lagi.

 

Karena zaman es terakhir terjadi sekitar 11.700 tahun lalu, apakah ini saatnya bumi mulai memasuki masa pembentukan lempeng es kembali? ”Ya, kita harusnya kita sedang berjalan menuju Zaman Es berikutnya,” kata Sandstrom seperti dikutip Live Science.

 

Zaman Es yang membekukan bumi terakhir terjadi pada 4,5 miliar tahun lalu. Lantas, kapan kiranya zaman es berikutnya mungkin akan tiba?

 

Jawabannya adalah, tergantung skalanya. Bumi telah mengalami lima kali zaman ss skala besar. Faktanya, saat ini, bumi tengah mengalami zaman es. Itu sebabnya planet ini punya daratan es.

 

Sayangnya, dua faktor terkait orbit bumi yang memengaruhi masa glasial dan interglasial, tidak berfungsi. Manusia membuang lebih banyak karbon dioksida ke atmosfer sehingga bumi mungkin tak akan masuk ke masa glasial setidaknya untuk 100 ribu tahun ke depan.

 

Ahli astronomi Serbia Milutin Milankovitch memiliki teori mengapa bumi memiliki siklus glasial dan interglasial. Karena bumi mengelilingi matahari, ada tiga faktor yang memengaruhi intensitas sinar matahari ke bumi yakni kemiringan, eksentrisitas, dan kestabilan posisi bumi. Dalam jurnal Science 1976, ada pembuktian efek tiga hal itu terhadap siklus glasial bumi.

 

”Tapi bila bumi terlalu hangat, semua faktor itu jadi tidak berguna karena es tidak terbentuk,” kata Sandstrom.

 

Satu hal yang membuat bumi menghangat adalah karbon dioksida. Selama 800 ribu tahun terakhir, tingkat karbon dioksida bumi berfluktuasi antara 170-280 ppm. Selisih karbon dioksida pada masa glasial dan interglasial hanya 100 ppm.

 

Namun, kadar karbon dioksida hari ini jauh lebih tinggi dibandingkan fluktuasinya. Pada Mei 2016 lalu, Climate Central mencatat tingkat karbon dioksida di Antartika mencapai 400 ppm.(man)

BERITA LAINNYA

Heboh! Internet Media Centre Batam Lemot Saat Dijajal Menkominfo

Mulai Agustus, Yahoo Tutup Aplikasi YM

APJII: Genjot Pertumbuhan Internet Indonesia Butuh IPv6

Agnes Luncurkan Generasi Terbaru Vivo 4G

Protes Politik Kotor Bank, Anonymous Intesifkan Operasi OpIcarus

Ayo Asah Otak Kamu di Kompetisi SDYC 2016

Ini Dampak Gerhana Matahari di Batam

Ini Cara Aman Melihat Gerhana Matahari Sebagian di Batam

Kota Batam Alami Gerhana Matahari Sebagian

Bijaklah Menggunakan Tinder