Home » Opini » Krisis Ekonomi Itu Saat Pesta Bola di Prancis
Senin, 7 September 2015 - 21:35 WIB

Krisis Ekonomi Itu Saat Pesta Bola di Prancis

Krisis Ekonomi Itu Saat Pesta Bola di Prancis ilustrasi

 

krisi ekonomiKEPRIUPDATE.COM – Ancaman badai krisis ekonomi jilid 2 kian mendekat ke Indonesia. Bahkan sudah menelan ‘korban’ yang tak sedikit.

 

Korbannya adalah masyarakat buruh yang kehilangan pekerjaan akibat perusahaan gulung tikar, imbas dari nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

 

Hingga hari ini kurs rupiah menembus level mengkhawatirkan yakni Rp14.285/dolar. Kondisi tersebut membuat perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor semakin terjepit.

 

Pengurangan karyawan besar-besaran terus dilakukan. Di Kota Batam bahkan untuk industri galangan kapal semakin terpuruk. Tercatat hampir semua galangan yang mengimpor bahan baku baja dari Cina tumpur.

 

Belum lagi perusahaan di sektor elektronik yang tutup di sejumlah kawasan industri Batamindo, Panbil dan Citra Buana. Akibat turunnya nilai ekspor. Membuat mereka mengambil kebijakan tutup atau pailit.

 

Tidak hanya perusahaan penyerap tenaga kerja yang krisis. Sektor UMKM di Indonesia termasuk Batam juga mengaku mengalami penurunan omset, akibat daya beli masyarakat semakin rendah karena nilai barang dengan penghasilan tak sebanding.

 

Akhirnya, para pelaku bisnis yang konon disebut-sebut sebagai penopang ketahanan perekonomian, saat badai krisis moneter melanda RI tahun 1997 silam tersebut juga kolaps. Hal ini sungguh memilukan dan menakutkan bagi keutuhan bangsa Indonesia.

 

Alam pun seakan menjadi pertanda akan hancurnya fundamental perekonomian bangsa Indonesia. Lihat saja kekeringan melanda seluruh Pulau Jawa. Petani gagal panen karena tidak adanya air mengaliri sawah mereka.

 

Ironisinya lagi, masyarakat juga dihantui musim paceklik panjang karena tidak ada lagi persediaan air bersih yang tersaring di tanah mereka. Penyebabnya, hutan digunduli dan pemanasan global itu semakin nyata mendera wilayah tropis pemasok karbon oksigen dunia ini.

 

Sementara di Pulau Sumatera kini diselimuti asap pembakaran hutan untuk perkebunan sawit. Beberapa penerbangan dibatalkan, operator meradang akibat kerugian dialaminya.

 

Khusus di Kota Batam kini masyaraktnya dihantui musim kering air bersih. DAM Seiladi, DAM Seiharapan, DAM Mukakuning dan DAM terbesar Duriangkang nyaris kering kerontang. Jutaan warga Batam sebentar lagi akan kehilangan air bersih, karena air yang ada dijual ke kapal tanker asing oleh oknum ATB Batam.

 

Menilik dari beberapa rentetan peristiwa tersebut di atas. Mengingatkan kita pada cerita di balik hajatan akbar Piala Dunia 1998.

 

Saat itu situasi Indonesia cukup mencekam, GAM di Aceh dan OPM di Papua mati-matian menuntut kemerdekaan. Sementara kisruh RAS melanda hampir sebagian besar tanah air. Hingga penggulingan rezim Soeharto dari jabatannya sebagai Presiden.

 

Namun situasi sedikit mereda mana kala Piala Dunia 1998 berlangsung. Publik tanah air yang mayoritas penggila si kulit bundar terfokus pada negara jagoannya bertanding ketika itu. Ada yang menfavoritkan Brasil dengan Ronaldo botak, ada juga Prancis dengan Zinedine Zidane.

 

Nah, UERO Prancis akan digelar Juni tahun 2016. Terlepas ini kebetulan atau tidak sepertinya dejavu badai krisis di tengah hingar-bingar momen sepakbola dunia kembali mewarnai perjalanan bangsa. Akankah krisis ekonomi jilid 2 saat ini bisa dilalui dengan buah sukses. Semoga. (taher)

 

 

 

BERITA LAINNYA

Melihat Sudut Lain Dampak Rokok Sebagai Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Utilitarianisme Kebijakakan Penetepan Tarif Online

Kacamata Etika Bisnis Memandang Kondisi Pasar pada Bulan Ramadan

Lapangan Kerja Sempit, Gepeng dan Anjal Menjamur di Batam

Mendidik Itu Jeruji Besi Yang Berubah Jadi Rumah Pribadi

Belajar Membangun Ekonomi Negara dari Jepang

Perlukah Tax Amnesty?

Corporate Bond = Sinyal Positif bagi Investor?

Kemana Aja Sih…Baru Turun Gunung?

Kalah Setrum Listrik Batam