Home » Opini » Kemana Aja Sih…Baru Turun Gunung?
Monday, 12 October 2015 - 16:07 WIB

Kemana Aja Sih…Baru Turun Gunung?

Kemana Aja Sih…Baru Turun Gunung? Seorang bertapa penuh khusyuk. foto: adynura

 

 

Seorang bertapa penuh khusyuk. foto: adynura

Seorang bertapa penuh khusyuk. foto: adynura

BATAM – Batam tak kunjung berhenti memamerkan rentetan peristiwa yang menurut sebagian orang adalah hal biasa dan luar biasa. Mulai dari kasus pemerkosaan, pembunuhan, penculikan, yang rata-rata korbannya anak baru gede (ABG) ataupun anak ingusan (Angus).

 

Setiap kali ada yang fokus terhadap kejadian yang lagi happening, pasti bakalan tembus like post ribuan dan komentar ratusan, ada yabg berkomentar, sambil mengucap dan memuji nama Tuhan, ada yang menyalahkan pemerintah, orang tua dan keadaan, dan ada pula yang meremehkan, caci maki mereka, sebatas apa yang mereka lihat, dengar, dan pikirkan saat itu juga.

 

Beberapa tahun yang lalu, bertepatan dengan hari anak nasional, di radio, team kala itu mengangkat tema “Anak dan Dunia Maya”. Kita buat narasi sesuai fakta di lapangan, anak usia 9-15 tahun yang rentan mendapat perlakuan mulut kasar di dunia maya, sumpah serapah, penyebutan alat kelamin, membentuk geng, bullying, penelfon bilang team yang pagi itu bertugas mengada-ngada, tidak mungkin anak-anak itu lepas kontrol, dan bla… bla… bla…

 

Memang saat itu tidak semua orang punya facebook, hanya segelintir orang saja, karena anggapan tidak penting punya facebook. Belum kenal email, hp masih buat sms dan nelpon, pulsa buat internetan masih mahal, wifi gratisan susah dicari, hp kekinianpun hargaanya jutaan, belum ada yang KW.

 

Berbicara soal dunia maya, Batam tak seeksis daerah lain yang sudah ramai-ramai bermigrasi ke Twitter, Instagram, Tumblr, Wishper atau Miow, yang sejak 2009 banyak yang meninggalkan facebook. Batam pun tak ter-blow-up di trending topik dengan tagarnya #. (Semoga mengerti maksud saya).

 

Pertanyaan saya, berapa banyak aplikasi sosial media yang anda punya, hanya facebook? Hanya Path? Hanya Instagram?, coba sesekali install aplikasi sejenis Secret, atau Pesona, mungkin kaget bukan kepalang ketika rata-rata postingan berisi ajakan untuk menikmati selangkangan, dan terang-terangan mereka mengakui umur, jenis kelamin, dan ketemuan di mana.

 

Dan akan miris juga membaca postingan, sex by phone, sex video call dan sms sex, ya usia mereka rata-rata masa perkembangan SD-SMA. Mungkin ada yang pernah hidup di zaman Yahoo Massanger atau bahkan MiRC, kurang lebih sama. Namun ketika itu sex masih menjadi hal yang tabu tapi hari ini menjadi kebanggaan. Apalagi pedofilia, LGBT alias Lesbi Gay Bisexual and Transgender.

(Terkadang saya berpikiran, aplikasi itu diciptakan untuk mereka yang kesepian)

 

Kita mundur lagi sebelum tahun 2000-an dimana saat itu mama saya masih nyinyir terhadap teman-teman saya yang mulai menggunakan rok dan celana pendek satu jengkal di atas lutut, tetangga saya masih cerewet menegur anak gadis orang jika pulang malam, dan sama laki-laki lain.

 

Dan satu RT ataupun satu RW masih saling kenal, akrab, dan tau si A, si B, si C anak siapa, sehingga rasa kekeluargaanpun dalam satu komplek (kampung) masih ada. Tapi hari ini kita tidak tau siapa nama anak tetangga kita, memang “bukan urusan saya, bukan urusan gue, ngurusin anak sendiri aja susah”.

 

Ya pastilah demikian. Tapi ingat hukum tabur tuai. Alangkah baiknya kita kembali peduli kepada lingkungan sekitar, saling sapa, saling kenal dan saling melindungi, walaupun itu bukan anak kita.

 

Banyak hal yang harus kita pahami, media komunikasi bernama sosmed ini diciptakan untuk mereka sesuai zamannya. Masalah klasik urusan perut, pangan, papan sandang, masih jadi prioritas utama, tapi jangan sampai karna sibuk bekerja, pulang kerja tidur, bertanya sudah makanpun sama anak tak jadi prioritas. Ini awal mereka kesepian di rumah, mau main ke rumah tetanggapun tak ada yang kenal, akhirnya mereka cari teman di luar sana dan dimuluskan oleh sosmed.

 

Akhirnya mereka berbuat salah, labeling anak nakal, orang tua tak becus mendidik anak, keluarga model apaan itu dan lain-lain, muncul ke permukaan, timbullah masalah baru diskriminasi di lingkungan. Padahal awalnya ketidak perdulian kita. Ya kita tidak peduli.

 

Saya jadi ingat, satu hadist yang pernah saya hafal ketika masih aktif ber-Syarhil Al-Quran dulu, yang artinya: “Didiklah anakmu-anakmu (sesuai zamannya), sesungguhnya mereka diciptakan untuk suatu zaman yang berbeda dengan zamanmu.” (Sabda Rasulullah SAW).

 

Mereka anak-anak yang seharusnya berprestasi dan lucu-lucu hari ini, jangan disisihkan, tegur mereka dengan bahasa zamannya, nasehati mereka penuh kasih sayang, peluk mereka, ya… Peluk Jiwa mereka.

 

oleh: sarah m hussein / mahasiswi Batam

BERITA LAINNYA

Melihat Sudut Lain Dampak Rokok Sebagai Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Utilitarianisme Kebijakakan Penetepan Tarif Online

Kacamata Etika Bisnis Memandang Kondisi Pasar pada Bulan Ramadan

Pungli Pecah PL Gentayangan di BP Batam

Lapangan Kerja Sempit, Gepeng dan Anjal Menjamur di Batam

Mendidik Itu Jeruji Besi Yang Berubah Jadi Rumah Pribadi

Belajar Membangun Ekonomi Negara dari Jepang

Perlukah Tax Amnesty?

Corporate Bond = Sinyal Positif bagi Investor?

Kalah Setrum Listrik Batam