Home » Opini » Kalah Setrum Listrik Batam
Sunday, 13 September 2015 - 15:23 WIB

Kalah Setrum Listrik Batam

Kalah Setrum Listrik Batam

 

Masyarakat Batam, kembali dihadapkan pada persoalan pelik. Listrik byarpet setiap hari. ilustrasi

Masyarakat Batam, kembali dihadapkan pada persoalan pelik. Listrik byarpet setiap hari. ilustrasi

BATAM РPersoalan ketenagalistrikan kerap dijadikan grand disign konspirasi yang tak pernah padam dilakukan para pemangku kebijakan, politikus di Kota Batam. Sayangnya setrum listrik tersebut rutin mati.

 

Tidak kenal detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun. Seperti terjadi Minggu (13/9/2015) pagi sekitar pukul 08.00-12.00 WIB. PLN Batam kembali ‘merampas’ setrumnya dari genggaman warga.

 

Kontan saja suasana kabut pekat asap kiriman yang menyelimuti wilayah Batam,  menambah kelam kehidupan warga saat setrum itu mati. Diperparah cuaca panas kerontang mengeringkan rerumputan dan melayukan pepohonan.

 

“Sudah banyak asap, panas, mata pedih listrik mati pula,” Evita, warga Marina, mengeluhkan buruknya pelayanan PLN Batam.

 

Dari catatatan sejarah, PLN Batam selalu berdalih penyebabnya karena pasokan listrik PLTU Tanjungkasam Punggur mengalami masalah. Tetapi pendapat masyarakat hanya simpel, kenapa modar-modar terus nih listrik.

 

Apakah warga Batam bayar listriknya lambat? Tidak juga ternyata, karena si tukang setrum telah mengancamnya dengan putus meteran jika nunggak bayar.

 

Nah, bila penyebab listrik byar-pet saat ini hanya kasuistik, terkait adanya masalah teknis dari pembangkit listrik PLTU Tanjungkasam dan menurunnya pasokan gas dari PGN, jelas alasan tersebut tak bisa diterima.

 

Berkaca pada kondisi yang terjadi, maka muncul pula praduga jika bisnis listrik di kota industri ini telah menjadi alat bargaining, taktik bahkan strategi penguasa untuk mencapai tujuan kelompok, politik dan tentu saja kepentingan pribadinya.

 

Aroma tersebut biasa terjadi jelang pemilu seperti halnya Pilkada serentak 9 Desember mendatang. Tekanan kepada perusahaan bernama Bright PLN Batam itu sangat jelas dan terukur.

 

Ini bisa terendus ketika adanya wacana untuk meninjau ulang kontrak kerjasama dengan operator PLTU Tanjungkasam yang notabene asal Cina. Ekstremnya lagi, perusahaan asal Cina itu diminta segera hengkang dari Batam.

 

Timing desakan itu tepat. Menyusul secara kasat mata pemadaman listrik bergilir yang terjadi belakangan, turut andil ketidakbecusan dari operator tersebut.

 

Isu itu semakin komplit, manakala adanya dugaan pilih kasih yang dilakukan perusahaan terkait pekerja asing asal Cina dengan pekerja lokal.

 

Terlepas mati hidupnya setrum PLN Batam saat ini merupakan bagian taktik strategi menaikkan tarif listrik. Masyarakat hanya berpikir sederhana, listrik adalah kebutuhan pokok dan tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

 

Dan wajar pula bila masyarakat akan mengutuk, berteriak bahkan bersuara lantam dengan mengeluarkan seluruh kata-kata bernada isi kebun binatang. Ketika setrum itu tak berfungsi sebagaimana mestinya.

 

Konstitusi telah mengatur, sumber daya alam sebesar-besarnya mutlak dimanfaatkan dalam rangka mensejahterakan rakyat Indonesia. Seperti halnya energi listrik yang sangat berguna bagi kemajuan suatu bangsa.(taher)

BERITA LAINNYA

Melihat Sudut Lain Dampak Rokok Sebagai Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Utilitarianisme Kebijakakan Penetepan Tarif Online

Kacamata Etika Bisnis Memandang Kondisi Pasar pada Bulan Ramadan

Pungli Pecah PL Gentayangan di BP Batam

Lapangan Kerja Sempit, Gepeng dan Anjal Menjamur di Batam

Mendidik Itu Jeruji Besi Yang Berubah Jadi Rumah Pribadi

Belajar Membangun Ekonomi Negara dari Jepang

Perlukah Tax Amnesty?

Corporate Bond = Sinyal Positif bagi Investor?

Kemana Aja Sih…Baru Turun Gunung?